10 September 2016

Nuras di Kampung Nenggeng Nagreg


Berpetualang Mencari Sirah Cai

di Cekungan Nagreg

Oleh Deni Irwansyah (Kendan Traveler)


Puluhan motor dengan kecepatan tinggi menjadi pemandangan rutin di jalur lurus Nagreg. Jam lima sore, di stasiun kereta udarapun memanas, bau asap kendaraan bergelut dengan kepulan debu dari ratusan kaki orang-orang yang tengah bercengkerama dengan suasana sore. Dari stasiun Nagreg dengan membayar 3000 rupiah perjalanan dimulai menuju arah utara.
Kurang lebih dua kilo meter melalui jalanan berlubang nuansa itu sudah berbeda. Sepuluh menit berlalu, tidak jauh dari hamparan tanah berbentuk lapangan bola, sebuah kampung terlihat hijau, seolah menyambut ramah dengan aura manis wajahnya . Memasuki jalanan berbatu, ojek berhenti dan kembali ke tempat asalnya. Diteruskan dengan berjalan kaki, rasa letih dan gerah berubah sejuk dan relaks. Mendekati tempat yang mirip lembah akhirnya pertemuan dengan masyarakat dan tokoh Kampung Nenggeng terwujud.  
Musim kemarau akhir-akhir ini membuat sebagian daerah di Jawa Barat berubah menjadi lahan gersang dan aliran sungai bercampur limbah industri. Perubahan iklim yang drastis dan tidak pasti, bencana, dan ketidakseimbangan ekosistem menjadi salah satu permasalahan global yang melanda hampir di semua tempat. Kondisi tersebut dirasakan pula oleh sebagian masyarakat yang berada di cekungan Nagreg.
Akan tetapi tidak demikian yang terjadi di Kampung Nenggeng, Desa Citaman Kecamatan Nagreg. Warga masih merasa nyaman, meski perpindahan musim terjadi secara tidak menentu.. Saat ini ketika kekurangan air menjadi salah satu permasalahan mendasar dari kehidupan masyarakat, justeru di Nenggeng air masih berlimpah, dan menjadi anugerah tersendiri bagi warganya.
Keadaan ini ternyata tidak terjadi secara instan. Ketersediaan kandungan air yang cukup besar di kampung yang terletak di kaki bukit Gunung Serewen ini merupakan berkah dari akumulasi proses yang panjang, Prinsip menghargai nilai-nilai tradisi positif karuhun telah menjadi senjata ampuh untuk mengatasi situasi alam di jaman sekarang.
Salah satu kebiasaan khusus yang dilakukan warga kampung yang terletak menghadap ke selatan kecamatan Nagreg ini adalah tradisi “Nuras”. Meskipun ritual Nuras dalam tradisi masyarakat ini sudah tidak dilakukan lagi sejak 1960-an dan pernah digelar kembali pada 2004 lalu akan tetapi nilai-nilai dari tradisi ini masih tetap terjaga dengan baik, hal ini terbukti dengan adanya areal konservasi atas swadaya masyarakat yang diwadahi oleh sebuah kelompok masyarakat dengan nama Paguyuban Kahuripan Kahirupan Rakyat (PAKKAR).
Secara harfiah Nuras atau nguras (sunda) adalah membersihkan tempat tampungan air, sehingga tempat tersebut terhindar dari kotoran yang dapat menghambat rembesan air yang keluar dari tanah., air yang keluar dari bumi tersebut menjadi jernih dan berlimpah sehingga dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam keperluan seperti pertanian dan air untuk kepentingan rumah tangga seperti air minum.
Nuras juga memiliki makna mendasar bagi masyarakat Kampung Nenggeng. Selain sebagai cara manusia amit sun terhadap unsur spiritual dan alam sekitar untuk menggarap semua potensi yang ada di tempat itu, juga sebagai bukti pangeling-eling atas berkah air dan hasil bumi yang didapat, sehingga manusia tidak takabur, serakah, dan hanya menikmati hasil saja tanpa mau merawat kembali bumi sebagai tempat rejeki manusia tumbuh. Falsafah ini diungkapkan Aki Eje (76) dengan nada lembut dan sangat hati-hati. Ritualnya hanya menyembelih embe hideung, tambahnya, mengubur kepalanya dengan posisi dan kedalaman tertentu, memasak dagingnya dan membagikannya kepada masyarakat yang hadir setelah gotong royong pembersihan sumber air dilakukan, yang semuanya dilakukan di sekitar sirah cai Nenggeng.
Kebersamaan warga untuk membangun Kampung Nenggeng dengan pola-pola tradisi masa lalu para pendahulunya tidak terlepas dari adanya semangat partisipasi warga yang terorganisir dengan baik. Ketua PAKKAR Rudi (35)  mengatakan bahwa dengan adanya sebuah wadah kegiatan, warga dapat menyamakan persepsinya tentang pentingnya menjaga lingkungan tempatnya hidup. Kegiatan yang rutin dilakukan setiap minggunya adalah warga bergotong royong menjaga, merawat, melakukan perbaikan, dan pengembangan-pengembangan lahan garapannya sehingga menjadi tempat yang layak huni.  Kurang lebih 10 hektar lahan di atas Kampung Nenggeng kini telah menjadi kawasan hijau sebagai resapan air yang baik dan menyimpan air yang tidak mengenal musim.


Deskripsi Mata Air di Cekungan Nagreg
Selain Nenggeng,  pada 2004 penulis berusaha melakukan  pencarian informasi tentang keberadaan sumber air yang ada di sekitar cekungan Nagreg. Dari observasi tersebut terdapat beberapa tempat yang dulunya telah dikenal masyarakat sebagai tempat cadangan air yang berasal dari resapan mata air saat hujan turun, diantaranya mata air Cikoret, Kampung Margabakti, Desa Citaman, sampai saat ini menurut Ari (34) salah seorang warga di sana, ada dua mata air yang masih mengeluarkan air jernih yang digunakan oleh warga setempat untuk keperluan rumah tangga, di atas tempat yang mengeluarkan air tersebut terdapat pohon Kiara yang sudah tua umurnya, kemungkinan besar pohon inilah yang berfungsi untuk menyimpan air di tempat tersebut.
Mata air Cilimus sebelah utara SD Cibunar Desa Citaman, Nagreg. Tempat ini jarang terjamah warga, sehingga sebagian warga menyebutnya tempat angker karena ditumbuhi pohon Beringin besar. Tempat lain adalah mata air yang terdapat di Kampung Andir, masih di Desa Citaman yang kini statusnya telah menjadi hak milik salah satu rumah makan di lintasan di Nagreg, di atas tempat ini kini masih berdiri tegak pohon Beringin dan pohon Kawung, diduga pohon-pohon inilah yang berfungsi menjadi resapan air selama musim penghujan.
 Mata air Cijauh, Desa Bojong, terletak di kaki bukit Gajah Depa atau masyarakat sekitar menyebutnya Gunung Pabeasan, tepat di bawah kaki Gunung Mandalawangi. Meskipun kandungan airnya sudah sangat minim, akan tetapi di musim kemarau justeru tempat ini masih aktif mengeluarkan air buminya dengan baik, air dari sini mengalir ke arah barat melewati Desa Bojong, wilayah Yonif 330 sebelah selatan lalu menuju sungai besar dan berbatu di Desa Narawita Kecamatan Cicalengka.
Mata air air lain yang masih berada di Cekungan Nagreg  adalah mata air Cibeuneur, Desa Nagreg. Tempat ini terletak di kaki Gunung Pabeasan yang menghadap ke utara, tempat ini telah banyak kehilangan kandungan airnya dan hampir kering, padahal sebagian masyarakat mempercayai mitos bahwa air Cibeuneur mampu menyembuhkan orang sakit dan mengobati luka kecelakaan secara seketika.
 Selain itu terdapat pula rembesan air yang menjadi balong-balong alam yang terdapat di dalam lingkungan SMP Negeri Nagreg yang di duga bersumber dari Pasir Duta atau Gunung Batu dan Gunung Kendan (Peta AMS Edisi 2, 1963)  di sebelah timur Nagreg. Menurut Wa Ikim (62) Sesepuh yang pernah penulis temui di Nagreg . Di Gamblung, tempat antara SMP Negeri, SMA Negeri Nagreg, dan Yayasan 17 Nagreg sekarang merupakan wilayah cagak gunting atau tempat bertemunya aliran yang berasal dari tiap penjuru angin.

Bergerak ke wilayah timur, diapit Gunung Batu (1086 dpl), Gunung Sanghyang Anjung (1027 dpl), dan Gunung Kendan (1077dpl), terdapat sebuah Kampung yang bernama Cirangrangan. Lembah di antara gunung-gunung ini dulunya juga merupakan  tempat puluhan mata air mengeluarkan air buminya yang mengalir ke barat membelah hamparan pesawahan Tegal Tengah, aliran sungai dari Cirangrangan ini nantinya bertemu dengan aliran sungai lain dari hulu Cibodas yang terdapat di sebelah utara Nagreg yang alirannya melewati Kampung Kendan Nagreg lalu mengarah ke tengah Nagreg, antara Tegal Tengah, Cigalumpit, dan Pamujaan, dan di pertemuan tersebut terdapat pusaran air yang orang Sunda menyebutnya leuwi.

 Semua tempat yang penulis sebutkan dulunya merupakan hulu tampungan air yang semuanya mengalir ke tengah cekungan Nagreg dan berkumpul menjadi satu di aliran sungai Cibodas melalui wilayah Desa Citaman. Selain itu, di wilayah barat Nagreg Sungai Cibodas juga masih menerima aliran air yang berasal dari Hutan Cowang dari Mata air Cikaraha di Gunung Serewen dan Gunung Buyung.
Masih ada dua sumber air yang berasal dari mata air di wilayah Nagreg, yaitu di Lembah Bakom  tepat di Kaki Gunung Sanghyang Anjung yang mengarah ke timur. Air dari lembah Bakom memang mengalir ke daerah Simpen, Limbangan, akan tetapi pusat resapannya ada di cekungan Nagreg dan satu lagi adalah sirah cai Nagreg di Paslon Jalan Cagak Nagreg yang secara geografis berasal dari Pasir Cikaramat, Desa Ciherang, Nagreg. Sumber air ini mengalir ke wilayah timur dataran rendah Nagreg, ke Lebak Jero menuju Kabupaten Garut.
Melihat kekayaan sumber air di Cekungan Nagreg sulit dipercayai kalau sebagian wilayah ini mengalami kekeringan dan gersang. Akan tetapi melihat kenyataan yang ada sebagian sumber air tersebut memang keadaannya sangat mengkhawatirkan bahkan sudah ada yang mati, seperti terjadi di Babakan Nagreg yang bertepatan dengan pembangunan jalan lingkar Nagreg.
Kembali ke Nenggeng, jika dibanding dengan yang lain, maka ratusan rembesan mata air di Nenggeng adalah satu-satunya tempat berkumpulnya air bumi yang hingga saat masih terawat dengan apik, apalagi keadaan ini terjadi atas kesadaran masyarakatnya untuk menjaga  alamnya sehinggga hijau, sejuk, dan hidup.
Menurut Edi (37) salah seorang Rukun Tetangga  (RT)  di kampung Nenggeng setiap pagi selalu terdengar suara burung dari berbagai macam jenis burung, bahkan ada burung yang tadinya tidak ada di sana kini menjadi penghuni kawasan hijau yang dibagi enam sektor tersebut. Makanya jika ada warga lain yang hendak menebang pohon di areal itu dengan sigap semua menentang keras, ungkapnya.
Kampung Nenggeng secara administratif terletak di Desa Citaman Kecamatan Nagreg, dengan jumlah penduduk kurang lebih 300 orang. Dapat ditempuh dari berbagai pintu jalan desa, diantaranya dari arah gerbang menuju Serewen yang berhadapan dengan markas Yonif 330, dari jalan dekat Kantor Desa Citaman, dari stasiun Nagreg, dan dari pintu perlintasan kereta Nagreg.
Nenggeng berarti nenggang atau sebuah tempat yang terlihat jauh dari pandangan mata. Dengan salah satu tradisinya yaitu Nuras maka tempat ini pun  dapat menjadi satu tujuan alternatif untuk penelitian yang berhubungan dengan lingkungan hidup, atau tidak menutup kemungkinan bisa menjadi salah satu tujuan wisata alam (out bond), rest area, dan penerapan pengembangan model pembelajaran dalam dunia pendidikan, seni dan budaya, terlebih sebagian areal di tempat ini rencananya akan dibuat bumi perkemahan dan tempat kegiatan pelajar dan mahasiswa karena lingkungan alamnya yang masih segar dan alami, ujar ketua PAKKAR yang juga bertugas sebagai pejabat militer, di Cirebon.


Rawa-rawa di Cekungan Nagreg
Jika melihat betapa banyaknya sumber air yang ada di Cekungan Nagreg, menyinggung permasalahan lain, hal ini pula menguatkan dugaan bahwa cekungan Nagreg dulunya berupa rawa-rawa yang luas yang terjadi secara alami, hal ini pernah diungkapkan pula oleh sebagian anggota masyarakat Nagreg, bahwa di pinggiran-pinggiran bukit yang ada di Nagreg ada genangan-genangan air yang luas dan ditumbuhi oleh pohonan dan belukar.
Entah terjadi pada rentang waktu yang mana karena perlu dilakukan penelitian yang lebih mendalam, temuan penulis sejak 2004 lalu adalah terdapatnya rumpun-rumpun tumbuhan mirip likopodium  (lumut-lumutan) yang hidup di galian cadas di Kampung Kendan.  
Dari beberapa tempat yang penulis sebut sebagai sumber air, tidak jauh dari sana  biasanya tempat tersebut sering ditanami padi, padahal lahan-lahan pesawahan yang berdekatan dengan mata air selalu berupa lumpur hisap atau embel yang memiliki kedalaman setinggi orang dewasa, maka biasanya ada cara tersendiri supaya areal tersebut dapat dimanfaatkan untuk pertanian, yaitu melakukan penanaman dengan posisi duduk nangunjar dan ngangsrod dibantu dengan menggunakan bambu, ini adalah sebuah teknik menanam padi di areal lumpur bekas rawa agar tidak tenggelam dalam hisapan lumpur.
Kini sawah embel tersebut memang tidak terlalu dikenal, karena sudah jarang sawah dengan lumpur yang tingkat kedalamannya sampai dua meter, masalahnya adalah karena asupan air ke areal itu tidak terlalu banyak, dan bagian dalam lumpur sawah sedikit demi sedikit menjadi mengeras, di tempat lain bahkan sudah hilang, bukan berupa pesawahan akan tetapi menjadi petak-petak rumah penduduk dengan tata ruang yang semrawut.
Analisis sumber daya air dengan mengenali karakter Nagreg dari kajian historis adalah salah satu upaya mendasar untuk mengangkat kembali kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga potensi alam yang setiap hari justeru sangat erat dengan kehidupan masyarakat yang mendiaminya.
Jika nilai-nilai Nuras di Kampung Nenggeng tetap terjaga sehingga air di tempat ini masih tersimpan dengan kuantitas dan kualitas yang baik. Maka yang paling utama adalah bagaimana tradisi ini dapat menjadi motivasi untuk wilayah lain yang berada di cekungan Nagreg untuk dapat menghidupkan kembali mata air-mata air yang selama ini tengah tidur panjang, sekarat, dan mati. Logikanya adalah tempat di atas mata air –mata air itu berada harus hijau dan ditumbuhi pohon dengan karakter penyimpan cadangan air selama musim penghujan.
Tidak perlu memelihara burung, pelihara saja habitatnya, maka burung-burung itu akan datang kapanpun kita butuhkan, juga percuma saja mencari air kalau kita tidak punya wadah penampungnya, ungkap Bob Ujo (30) seorang aktivis lingkungan hidup dan budaya untuk Bandung bagian timur. Bob juga menguraikan pengamatannya tentang Nuras di Nenggeng, mata air yang terdapat di sana memang terjadi secara alami karena hubungan sebab akibat yang diupayakan masyarakatnya selama ini. Penghijauan dengan cara memanfaatkan areal sisa-sisa penebangan liar ini adalah cara yang paling sederhana. Jika pohonannya tumbuh dengan baik, beberapa waktu kemudian airpun akan tersimpan dalam kadar yang cukup pula. Bukan sekedar menanam, tandasnya, masyarakat Nenggeng sudah menyadari bahwa memanfaatkan dan merawatnya adalah salah satu cara yang menyeluruh dari proses ini, salah satu cara adalah Nuras dalam arti yang sesungguhnya.
Dari sudut pandang budaya, Nuras bisa diselenggarakan bukan hanya sebagai ritual air saja, yang hanya dilakukan sebagai kegiatan seremonial sesaat, yang digelar setelah memanen padi, sebelum bercocok tanam dimulai, justeru yang paling utama adalah melakukan langkah maju untuk dapat membangun masyarakat Nenggeng di masa depan agar hidup dari apa yang mereka punya sesuai alam dan jamannya.


Nagreg 20 Oktober 2009









Photo Dokumentasi
Cekungan Nagreg dilihat dari Gunung Sanghyang Anjung (1027 dpl)
Photo: Deni Irwansyah


Pesawahan di Kampung Nenggeng, Desa Citaman, Kecamatan Nagreg dengan latar Galian Cadas Kendan.
Photo: Deni Irwansyah


Kampung Nenggeng , Desa Citaman, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung
Photo: Deni Irwansyah






Salah satu potensi air Di Cekungan Nagreg yang berasal dari Mata Air Cikaraha, Gunung Serewen, Nagreg
Photo: Deni Irwansyah
Lycopodium, tumbuhan lumut yang hidup di galian cadas Kendan, Kampung Kendan, Nagreg
Photo: Deni Irwansyah

19 March 2013

Aku Ingin Menjadi Suara


Aku Ingin Menjadi Suara


aku ingin menjadi suara
yang kau dengar sangat sederhana
sejak datang kelembutan kabut malam
hingga lelah istirah di hawa pagi

aku ingin menjadi suara
yang kau peluk dalam selimut rindumu
mengenang awal perjumpaan
melempar jauh akhir kisah
gelombang halus sebuah percintaan

aku ingin menjadi suara
menjadi suaramu


Aku Ingin Menjadi Suara
Deni Irwansyah
Nagreg, 3 Juni 2011

17 February 2012

300 Purnama



300 PURNAMA

300 purnama kulalui
kuda putih memacu waktu
kesunyian berkelakar
di caya malam

kini ia datang
menyapaku,
menatapku
memelukku di air mukaNya
kutanggalkan berahi
menjadi
cinta Abadi


Deni Irwansyah
Nagreg, 2010

18 August 2011

Tuhan Aku Belum Mandi



TUHAN AKU BELUM MANDI


Tuhan
aku belum mandi
juga belum gosok gigi

Tuhan
aku gak mau makan
juga enggan tidur

Tuhan
aku masih sebel
ada orang melahap gelak tawaku
kerna bangsa ini
kehabisan sabun mandi dan pasta gigi
kemalingan pangan dan kasur kapuk

Tuhan
besok saja
aku mandi dan gosok gigi
aku makan lahap dan tidur nyenyak
kini, aku mau pinjam dulu sendokmu
untuk mengocek kopiku
yang berisi tanah dan air
sebuah bangsa yang berkhianat
pada hukumnya sendiri

Ah Tuhan,
aku sekali ini
kangen banget
bersua denganMu
bergumam doa dan racikan
fitrah cintamu untuk negeri ini


Deni Irwansyah
Tuhan Aku Belum Mandi
Nagreg-Indonesia
2010

Relief Mimpi



RELIEF MIMPI



Mari berjalan
menuju pagi meski malam
masih wangi tanah merah

Sisakan bayanganmu
di sinar bulan sabit

Sisakan saja
mereka akan terbangun
tak ada yang istimewa
selain sepi

Mari belajar
meski dari mimpi
bukan gambarnya
mana yang awal
mana yang akhir
mana dan siapa kau?


Deni Irwansyah
Relief Mimpi
2005-2010
Nagreg-Indonesia

Relief Hujan



RELIEF HUJAN



tahun itu
badai datang
badai bergemuruh
pandanganku kalut

realita, realita
kali berkabut
di pertengahan Pebruari
hujanpun turun
memukul dedahan perdu
menampar mimpiku


Deni Irwansyah
Relief Hujan
2005-2010
Nagreg-Indonesia

27 July 2011

Padamu Saja


PADAMU SAJA


tanyakan pada sunyi rahimmu
siapa mengecup riak rembulan
sebab aku tak tahu apa
tentangmu

tanyakan pada bening rahimmu
siapa mendekap hangat malam
siapa meremas rambut tangismu

di pagi buta
tanyakan hanya
padamu saja


Deni Irwansyah
Padamu Saja
2010